Rabu, 14 Desember 2011

Aku Yang Selalu Mengalah

14.29 Posted by Mu'allimah Rosyida No comments


                Aku yang selalu mengalah
              dan terus mencoba bersabar menghadapi mereka.
              Demi mempertahankan hubungan dan ikatan ini.
    
        Kata itu yang selalu terucap di dalam benakku.Aku memang yang selalu mengalah pada mereka,demi mereka.
                “Kanya..” Debi menepuk punggungku,sambil menduduki kursi kosong yang ada di depan bangguku.Dia hanay diam,tak bertanya apapun.Aku yang sedari tadi membaca buku Biologi,terus saja melanjutkan membacaku.Tak lama aku dan Debi berduaan datang Shanti dan Eliza. “Lagi pada ngapain nih?berduaan aja.”ucap Shanti sambil duduk menjejeri Debi. “Nggak kok..nggak ngapa-ngapain.Lagi duduk-duduk aja.” Jawab Debi sambil menyangga wajahnya dengan tangankirinya. “Emm,iya.Nya..,ntar waktu Matematika biasa ya kamu duduk sama aku.” Ucap Liza sambil berhenti memencet keypad hpnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku. “Sama kamu melulu Liz.Sesekali sama aku kek kenapa?” protes Shanti. “Nggak bisa,hukum dasar dan undang-undang mutlak,kalau  soal duduk bareng waktu pelajaran apa,Kanya harus sama aku.Titik,kenapa mau protes?mau marah?” “siapa yang mau marah?santai kenapa Liz nggak usah ngomel.” Ucap Shanti kesal.liza tak menjawab,dia meneruskan memencet keypad hpnya.

                Siang ini rasanya begitu panas.Aku ingin segera kembali ke rumah,ganti baju,dan langsung merebahkan diriku di atas springbed.Selesai piket,aku segera melangkahkan kakiku untuk segera keluar dari dalam kelas yang sudah cukup sepi.Aku melangkahkan kakiku gontai. “Nya..” suara seseorang memanggilku.Aku menengok ke arah sumber suara itu.nampak Shanti sudah berdiri di hadapanku. “Temenin ke rumahnya Iwan yuk..” pintanya.Uh..,apa dia tidak tahu?aku ini sedang capek,kok malah disuruh menemaninya ke rumah Iwan—pacar tercintanya—yang sering putus nyambung. “Sorry deh Shan,aku lagi capek banget.Besok aja deh.” Ucapku dengan nada aras-arasan. “Ya ampun Nya,sebentar aja.Cuma mau ngembaliin flashdisk.Dia minta dikembaliin sekarang.”Pinta Shanti dengan nada memelas  “maaf deh,aku lagi capek banget,belum makan,ngantuk.” Tolakku “ntar dijalan aku traktir deh.Habis itu pulangnya kau antar.Ya Nya ya,pliss.” “Minta ditemin Debi aja deh,atau Liza.” “Debi?mana mau anak males kaya dia.Liza lagi,manusia sok bossy kaya dia mana mau disuruh bawahannya.” Ucap Shanti sambil menekankan kata Bossy dan bawahan.Aku tak segera menjawab,aku menyeka keringat yang mengalir dari keningku.Udara siang ini begitu panas. “Ya Nya ya..,plis.Cuma bentar kok.” Pinta Debi lagi penuh dengan harapan.Sebentar sih sebentar,tapi kan rumahnya Iwan jauh.1000 kilometer dari sekolahan. (sebenarnya sih nggak juga kalau seribu kilometer,mungkin sekitar lima kilo dari sekolah.Biar saja ku katakan 1000km,habisnya aku kesal.) melihat wajah Shanti yang penuh harapan,aku jadi tidak tega.Ya sudahlah,tak apa,demi sahabat,toh nanti dia mau mengatar ku pulang. “Ya sudah yuk.” Ucapku sambil melangkahkan kakiku meninggalkan koridor kelas 9G. “Makasihhh Kanya..” ucap Shanti senang,sambil menjejeri langkahku.
               

Aku Yang selalu mengalah..
                Dan terus mencoba sabar..
                Aku yang selalu mengalah
                Dan mencoba mengerti mereka
               
     “Abis ini ke anter aku ke Salon ya Nya..” pinta Liza sambil terus melangkahkan kakinya menuju Toko sepatu. “Tapi kan tadi kamu sudah beli make up banyak banget.Udah ada hand and body lotion,bedak,pelembab wajah,milk cleanser,lulur bengkoang,masker bongkoang,parfum,sabun susu.Masa semua itu nggak bisa buat perawatan kulit kamu di rumah.” Keluhku dengan suara terengah-engah,sambil berusaha menjejeri langkah Liza. “Aku mau krimbat.Lagian ada cream wajah yang nggak bisa aku temuin di plaza ini.Adanya Cuma di salon.” Ucap Liza ketus sambil terus berjalan.Aku hanya bisa mendesah,sambil menahan beban barang belanjaan milik Liza yang jumlahnya cukup banyak.
                Setengah jam aku menunggu Liza memilih-milih sepatu.Ada tiga jam mungkin aku menemani ia shopping.Ah..aku lelah,aku ingin pulang,tapi aku harus menemaninya ke Salon dulu.Aku ingin menolak,tapi aku tak bisa.Aku tak mau dimarahinya..,aku terlalu takut padanya.Jarak antara plaza dengan Salon langganan Liza cukup jauh.Aku yakin..,nanti saat di Salon,aku harus menunggu Liza berjam-jam.Mungkin dua jam kurang lebihnya.Huft..sabar saja,demi Liza.

                Aku yang takut kehilangan mereka
                Tak mampu menolak semua mau mereka
                Aku yang terlalu penakut
                Aku yang terlalu menyayangi mereka
                Yang ku anggap begitu berharga
                Meski mereka menganggapku tak miliki harga sedikitpun

       Debi memasuki ruang kelas.Ia segera duduk pada bangku kosong  yang ada di depanku.Ia membanting buku yang ia bawa pada meja di depannya.Aku yang sedari tadi sendirian di dalam kelas,yang tengah asyik membaca buku,dikagetkan dengan sikap Debi.Ku coba mendekatinya. “Deb..” panggilku sambil duduk disampingnya.Ia menoleh,wajahnya merah. “Mmm..,kamu kenapa?” Tanyaku hati-hati.Dia memandangku dengan wajah..,wajah garang. “Mulai nanti,kalau Liza minta duduk bareng sama kamu,jangan mau.” Ucap Debi menatapku tajam.”Emangnya kenapa?” “Kamu nyadar nggak sih?Dia  Cuma manfaatin kamu.Duduk bareng kamu biar nilai dia bagus.Tapi kamu nyadar nggak,kamu sering disruruh dia macem-macem kaya babunya.Kamu kok diem aja sih dijadiiin babu kaya gitu?” Debi menatapku tajam. Aku hanya diam. “Jangan pernah mau kalau kamu dijadiin babunya manusia yang sok bossy kaya Liza!!” “Sebebnernya kamu kenapa sih Deb?” “Jijik aku sama si Liza.Sok bosyy banget.Kalu di depan cowok cakep aja sok alim,sok rajin belajar.Coba kalau di depan cowok yang biasa aja,apalagi yang jelek.Ih...sok banget,sombong!” Aku hanya setia mendengarkan Debi. “Pokoknya,mulai hari ini,kamu harus duduk sama aku.” Pinta Debi.Aku hanya diam dan tanpa ku sadari ku anggukan kepalaku dengan pelan.

     Aku yang tak tahu apa-apa
     Yang selalu mengakhiri pertengkaranyang sering terjadi
     Aku yang selalu mengkahiri pertangkaran itu..
     Namun aku yang mereka katakan penyebabnya...

    “Oh..,jadi sekarang kamu lebih nurut sama dia?” Tanya Liza sambil menggebrak mejaku.Aku yang sedang menulis cukup terkagetkan olehnya. “Maksud kamu apa sih Liz?” tanyaku takut. “Maksud aku apa?Kamu nggak usah megok-megokin diri kamu. Kamu nyadar nggak?seminggu ini kamu menjauh dari aku.Kamu lebih pilih duduk sama Debi.Apa-apaan maksudnya?” Liza menatapku tajam,atatpannya tatapan serigala yang tengah mengincar mangsanya. “Bukan Kanya yang menjauh,tapi aku yang nyuruh.” Ucap Debi.Dia yang tadi ada di depan whiteboard,kini berdiri tepat di hadapan Liza.Mereka saling menatap tajam. “Kalau kamu nggak mau lagi gabung sama aku and Shanti,nggak usah bawa-bawa Kanya .” Nada bicara Liza terdengar sangat di tekan. “Kenapa?kamu takut kehilangan temen-temen kamu?Suka-suka aku mau bawa-bawa Kanya atau nggak.Toh,Kanya juga mau aku bawa-bawa.” Ucap Debi sinis sambil  menatap Liza tajam. “Jadi,ini semua mau kamu?” tanya Liza padaku. “Bukan maunya,aku yang minta.Dia Cuma sekedar nuruti aku.” Ucap Debi mewakili jawaban ku. “Jadi kamu lebih  nurut sama Debi?Nurut banget kamu.Paling-paling ujung-ujungnya kamu Cuma diperalat.” Ucap Liza sambil tersenyum sinis. “Ngaca Liz.Perasaan kamu yang jadiin Kanya sebagai babu kamu deh.Munafik banget kamumnggak mengakui kesalahan sendiri.Malah memutar balikkan kenyataan.” “Oh..mjadi kamu beneran mau jadi musuh aku sama Shanti.Oke..,kalau kamu emang mau jadi pengkhianat.Dan Nya..,oke.Kalau kamu juga mau jadi pengkhianat.Kalian semua emang bukan temen yang setia.Terutama kamu Nya,selama ini aku kira kamu temen yang baik.Ternyata kamu malah sekongkol sama binatang satu ini.” Liza berlari keluar dari kels,ia membanting pintu kelas.

Aku yang selalu mematuhinya
Aku yang tanpa sengaja menyakitinya
Ternyata memang tak ia anggap
Pengorbananku selama ini tak ia anggap sedikitpun
Hingga aku hanya menyakitinya sekali dan setitik
Ia lukaiaku dan iris hatiku dengan lidah samurainya
   

        Empat bulan berlalu.Perselisihan diantara Debi dan Liza berkahir kemarin siang dengan sebuah pelukan hangat diantara mereka.Kemarin pula,kami mengucapkan janji tulus.Bahwa kami tak akn mempermasalahkan sesuatu yang tak pantas dipermasalahkan,hingga menjadi sebuah masalah yang besar,dan berujung pertengkaran diantar persahabatan kami. “Entar main ya..” ajak Shanti dan Liza. “Oke,mau main ke mana?” tanya Debi dengan senyum manisnya. “Ke rumahnya..,mm..Kanya aja deh.Kita kan sudah nggak pernah ke rumahnya Kanya.” Ucap Shanti sambil memandangku. “Nggak keberatan kan Nya..??” tanya Shanti padaku. “oh.,nggak kok.” Jawabku enteng.Walau aku memiliki banyak PR dari guru les Martematika dan Guru Les musik ku.Ya sudahlah,tak apa,Pr-nya akan ku kerjakan nanti malam saja.Aku akan nglembur.Dari pada aku menolak permintaan teman-teman,dan kahirnya mereka marah padaku.

                Biarlah aku selalu seperti ini
                Selalu mengalah pada mereka
                Karena aku tak mau merusak persahabatan ini
                Persahabatan yang sudah berjalan lebih dari dua tahun
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Thank for your visit.Silahkan komentari post diatas dengan peraturan

1.Tidak boleh barkata kasar
2.Tidak boleh menghina
3.Menggunakan tulisan yang wajar dan mudah dibaca